Mengenali Kebutuhan Anak Sejak Dini

12 Aug 2017

Mengenali Kebutuhan Anak Sejak Dini — Melompat, berlari, memanjat. Gak pernah betah ada di satu tempat atau moment, langsung saja wuzzz…. Bergerak-bergerak-bergerak. Itulah gambaran Adik hingga usia 9 tahun. Nah, setelah mendapatkan menstruasi pertama, baru deh terlihat lebih kalem. Ia sering dicap nakal dan benar-benar gak mau diam. “Hiperaktif kali tu anak,” banyak yang bilang begitu. Pada usia awal masuk SD, ia tidak bisa konsentrasi sama sekali. Berada di dalam kelas yang ramai membuat Adik merasa gak nyaman. Kepalanya selalu tengok kanan dan kiri. Beberapa kali bahkan temannya menganggap kalau Adik mencontek. Ummi percaya Adik tidak melakukan itu, karena ia sudah paham ketika kami bilang mencontek itu tidak baik. Salah satu alasannya, karena kalau hasilnya bagus tapi didapat dari mencontek maka gak ada artinya.

Sebagai orangtua tentu saja kami khawatir Adik tidak bisa bersosialisasi dengan baik di lingkungan sekolah, di rumah, atau bahkan ketika kami bepergian. Seorang teman yang berprofesi sebagai psikolog menilai tingkah laku Adik bukanlah gambaran anak yang hiperaktif, melainkan hanya kelebihan energi saja. Buktinya Adik mau merespon apa yang diminta olehnya untuk menggambar, mewarnai, dan bisa fokus. Teman bilang sebaiknya harus diarahkan pada aktivitas yang menunjang energinya agar tersalurkan. Dan makanan atau minuman manis tentu saja harus dikurangi. Wah, padahal Adik penyuka cokelat garis keras. Susu Chil-Go! cokelat dingin adalah favoritnya.

Kadang bingung juga harus bagaimana caranya menyalurkan energi Adik yang besar itu. Kadang diajak main ke taman-taman, ke sawah, atau empang yang memang tak jauh-jauh dari rumah. Coba kalau dari dulu ada MIPP (Morinaga MI Play Pan)? Ini adalah situs yang membantu orangtua untuk mengembangkan talenta dengan cara bermain. MIPP menyediakan fitur yang bisa digunakan untuk mengidentifikasi kecerdasan anak dan membantu orangtua untuk mengasah multiple intelligence pada anak dengan ide-ide permainan. Sebenarnya dengan banyak mengeksplor lingkungan sekitar gak salah, tapi kalau bisa lebih pada aktivitas merangsang kemampuan Adik tentu akan lebih menyenangkan.

ASYIKNYA ADA SEMINAR MORINAGA

Sungguh beruntung Ummi bisa datang di acara Konferensi Ayah Bunda ini di Hotel Haris pada hari Sabtu (5/8/2017) melalui KEB (Komunitas Emak2 Blogger). Saat datang ke tempat acara, langsung disambut oleh keriuhan pasukan merah. Tercatat ada sekira 1006 peserta. Wuih, banyak juga ya? Pasutri muda dengan putra-putri cantik dan tampan terlihat di mana-mana. Uhh nggemesin, deh. Ada banyak aktivitas di sekitar both, misalnya saja tempat bermain yang menarik. Hebat! Sungguh hebat, padahal acaranya berbayar tapi ramai luar biasa. Bagaimana kalau gratisan ya? Pasti sudah gak ketampung aja deh meski di tempat luas dan semegah ini. Ruangan full AC dengan tampilan panggung utama dan panggung panjang ke depan, memudahkan pemberi materi menjangkau peserta yang duduk di belakang. Oya, peserta harus duduk sesuai gelang yang mereka pakai. Ada gelang bewarna emas, biru, hijau, orange, dan juga ada nomor pesertanya. Itu semua untuk keperluan doorprize dan game. Hadiah utamanya i-Pad loh?

Gak ada istilah desak-desakan atau rebutan kursi. Semua mengalir mengikuti alur. Panitia patut diacungi jempol meski kemudian ada insiden mic mati hanya karena ada kabel yang copot karena terinjak anak-anak. Basically, acaranya bagus dan banyak manfaatnya. Acara dibuka oleh ketua IDAI, setelah sebelumnya host memperkenalkan sang pembawa acara, yaitu Teuku Dzaki yang membawa serta keluarganya. Asyiiik, ada artis hehehe. Materi pertama dibawakan oleh DR. Dr. Ahmad Suryawan SpA(K), ketua divisi Tumbuh Kembang Anak dan Remaja, Departemen Ilmu Kesehatan Anak, RSUD Dr. Soetomo/FK Unair Surabaya. Beliau biasa dipanggil dengan sebutan dr. Wawan. Temanya dalah tentang “Mengungkap 4 Faktor Pembentuk Anak Generasi Multitalenta” atau “4 Perisai”. Jadi, katanya yang dimaksud dengan 4 perisai itu adalah,

1. Perkembangan Otak

80% otak manusia dibentuk pada usia 0-2 tahun atau pada masa kehamilan sudah mulai dibentuk. Tidak jarang banyak ibu hamil sering menempelkan alat musik di perutnya dengan harapan janinnya akan mendengar dan perkembangan otak akan baik. Namun ternyata, menurut dr. Wawan, itu saja tidak cukup. Ternyata ibunya juga harus mendengarkan sehingga ia bisa merasakan dan meresapinya. Diharapkan, sinyal-sinyal itu akan sampai pada janin yang dikandung. Pembentukan sirkuit otak berlangsung secara kontinyu dan berkelanjutan sejak dalam kandungan hingga usia dewasa. Namun puncak kepadatan sirkuit otak sudah tercapai pada usia 2 tahun.

Bayi di bawah usia 6 bulan, 25% perkembangan otaknya didapat melalui penglihatan dan pendengaran. Oleh karena itu sebaiknya stimulasi sering dilakukan. Dengan melakukan stimulasi-stimulasi ringan seperti mengajak ngobrol, bercerita, bernyanyi, dan lainnya jelas akan sangat bermanfaat. Meskipun bayi terlihat tidak merespon, sebenarnya hal-hal tersebut akan terekam baik di otaknya. Nah, saat meneteki adalah momen yang pas tuh. Jangan sampai bayi asyik menete, eh ibunya malah asyik main gadget atau menonton TV. Kalau Ummi dulu sih seringnya ketiduran sambil meneteki. Duh.

2. Sistem Ketahanan Tubuh

Air Susu Ibu (ASI) merupakan sumber nutrisi terbaik untukmembentuk sel-sel imunitas bagi bayi. Di dalam ASI terdapat zat-zat kekebalan yang sangat dibutuhkan bayi. Pemberian ASI secara eksklusif sejak lahir hingga usia 6 bulan pertama akan membuat tubuh bayi mempunyai kesiapan yang cukup untuk membentuk sitem ketahanan tubuh secara mandiri. Ini harus cepat dilakukan mengingat sel-sel imunitas yang didapatkan dari ibu akan semakin menurun.

3. Tumbuh Kembang Optimal

Tumbuh dan berkembang tidak dapat dipisahkan. Diharapkan anak dapat tumbuh dengan ukuran normal dan proporsi sesuai tahapan usianya. Proses pertumbuhan fisik sangat terkait dan tidak dapat dipisahkan dengan perkembangan otak dan sistem ketahanan tubuh. Oleh karena, bila otak anak mampu berkembang dengan baik dan jarang sakit, maka hormon pertumbuhan akan dapat diproduksi dan bekerja dengan baik.

4. Kesehatan Saluran Cerna

Struktur saluran cerna bayi mulai terbentuk secara bertahap sejak dalam kandungan. Pada awal lahir, terdapat berbagai faktor yang mempengaruhi kesehatan saluran cerna anak. Faktor paling dominan yang mempengaruhi kesehatan saluran cerna di usia dini adalah komposisi dan fungsi mikribiota di dalamnya.

BELAJAR TENTANG KECERDASAN MULTITALENTA

Materi kedua dibawakan oleh Dr. Rose Mini S. Prianto, M. Psi, selaku ketua Program Terapan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dan Presiden Direktur ESSA Consulting dengan tema “Kekuatan Bermain untuk Membentuk Kecerdasan Multitalenta di Era Milenial”. Duh, berat gak ya materinya? Tapi yang jelas, amat bermanfaat. Kenapa bermain? Karena bermain merupakan suatu kegiatan yang disenangi anak tanpa adanya unsur keterpaksaan. Hal ini merupakan cara belajar yang paling alami serta mampu mengembangkan seluruh aspek perkembangan anak (Papalia, Olds & Feldman, 2001). Dengan belajar sambil bermain, anak akan memperoleh kesempatan untuk mempraktikkan apa yang sudah dipelajari.

Kebanyakan orangtua pada saat ini, lebih mementingkan kecerdasan secara akademis. Anak jago hitung-hitungan, sudah tenanglah orangtua. Padahal ada hasil penelitian yang menjelaskan kebanyakan orang-orang sukses pada saat dewasa adalah mereka yang pandai bersosialisasi, bukan yang pandai matematika. Nah lho?! Baik, dijelaskan oleh dr. Rose bahwa ternyata ada 9 (sembilan) kecerdasan multitalenta, yaitu:

  1. Kecerdasan Linguistik (kecerdasan dalam berbicara, membaca, maupun mengeja)
  2. Kecerdasan Logika Matematik (kecerdasan untuk memahami kondisi/situasi menggunakan penalaran logika)
  3. Kecerdasan Musikal (kecerdasan anak dalam memahami musik, baik dalam menyanyi/memainkan alat musik)
  4. Kecerdasan Kinestetik (keahlian menggunakan anggota tubuh)
  5. Kecerdasan Visual Spasial (kecerdasan dalam bentuk kemampuan untuk memahami arah, ruang, dan bentuk akhir dari suatu benda, termasuk untuk berpikir kreatif)
  6. Kecerdasan Interpersonal (kecerdasan dalam berhubungan atau berinteraksi dengan orang lain)
  7. Kecerdasan Intrapersonal (kecerdasan yang berhubungan dengan kesadaran dan pengetahuan tentang diri sendiri)
  8. Kecerdasan Naturalis (kemampuan mengenali, membedakan, mengungkapkan, dan membuat kategori terhadap apa yang dijumpai)
  9. Kecerdasan Moral (kemampuan untuk memahami tuntutan yang ada di lingkungan, mengetahui apa yang baik dan buruk untuk dilakukan)

Jadi ya, kalau mau anaknya cerdas ya harus sering diberikan stimulasi. Gak usah dengan alat-alat yang mahal tapi cukup dengan yang ada di sekitar kita saja. Semua itu bisa dimulai dengan barang-barang bekas atau yang sudah tidak terpakai. Kalau bingung mau bikin apa, coba buka aja situs http://www.morinagamiplayplan.com. Di sini, orangtua akan diberikan contoh membuat mainan yang menarik, sehingga dapat memberikan waktu yang berkualitas, sekaligus mengamati minat anak dengan cara yang menarik dan menyenangkan. Seru kan? Tuh, coba saja dulu saat Adik masih kecil sudah ada fasilitas ini.

MENGARAHKAN ADIK DEMI MASA DEPAN YANG LEBIH BAIK

Alhamdulillah, Ummi senang sekali dengan adanya seminar ini. Jelasnya semuanya amat bermanfaat. Berbahagialah bagi para pasutri muda dengan kelengkapan fasilitas dan materi yang ada. Mereka pastinya jadi paham mengenai pentingnya sinergi antara nutrisi, stimulasi, dan peran serta orangtua dalam dalam mengembangkan Generasi Platinum yang multitalenta. Hal ini sejalan dengan tanggung jawab sosial Kalbe Nutrisionals, untuk mewujudkan Indonesia sehat menuju kehidupan yang lebih baik. Itu menurut Helly Oktavianan, Business Unit Head Nutrision for Kids, Kalbe Nutrisionals.

Kalau bagi Ummi sih, tidak ada kata terlambat. Meski sekarang Adik telah duduk di kelas 5 SD, dari ilmu yang didapat, Ummi bisa makin mengarahkan Adik sesuai dengan bidang yang ia sukai. Ummi tidak akan memaksa Adik harus begini atau begitu. Biarkan anaknya yang memilih mau jadi apa atau bagaimana. Paling tugas Ummi sebagai orangtua ya hanya mengarahkannya agar tidak salah jalan. Didukung dan dimotivasi terus agar ia semakin berkembang. Terus dibimbing hingga akhirnya ia bisa mendapatkan masa depan yang lebih baik lagi. Amiiin.

Dari sisi kesehatan, situs yang bermanfaat dari Morinaga adalah http://www.cekalergi.com yang kebetulan Ummi dapatkan dari salah satu brosur yang dibagikan. Kemarin juga sempat melihat booth untuk cek alergi. Kebetulan Adik memiliki keturunan alergi dari Ummi sendiri, yaitu alergi kulit, termasuk alergi asma dari bapaknya. Situs tersebut memberikan informasi mengenai alergi. Konsepnya sederhana, yaitu Cari Tau - Cegah & Atasi - Sebar. Keren. Pokoknya pastikan saja bahwa alergi tidak akan menghambat potensi anak. Ada 3 (tiga) tahapan mudah untuk menggunakan situs ini, yaitu (1) masuk ke fiturnya, (2) ikuti petunjuk yang telah tersedia, lalu (3) dapatkan hasil berapa besar risiko alergi si kecil. Hatur nuhun, Morinaga.[]


TAGS Morinaga Morinaga Platinum Chil Go


-

Author

Follow Me