Perempuan Kreatif di Era Milenia

1 Aug 2017

 

Perempuan Kreatif di Era Milenia — Kamis yang cerah. Pada hari itu (20/7) alhamdulillah saya bisa bersilaturahmi kembali bersama emak-emak blogger yang ada di Bandung, apalagi setelah ketemu cipika-cipiki langsung dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya secara bersama. Ada apa ya? Kebetulan saya diundang oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dan Indonesia Women IT Awareness (IWITA) melalui Komunitas Emak-emak Blogger (KEB). Bertempat di aula Masjid Mujahidin itu saya pun bisa mengikuti acara bertema ‘Kreatif bersama Serempak, Literasi Digital Generasi Millenial’.

Serempak? Apaan tuh? Bisa dibaca di situsnya, Serempak (dot) id adalah satu-satunya portal interaktif yang memberikan fasilitas diskusi terkait pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Jadi fungsinya sebagai media komunikasi antarperempuan. Komunikasi atau diskusi tersebut dipandu oleh pakar-pakar di bidang yang bersangkutan. Visi dan misinya bisa dilihat pada situsnya tersebut. Pada intinya, mereka menyebarluaskan informasi dari pihak kementerian terkait, menjadi wadah kerjasama kolaborasi penggiat pengembangan sosial, pemercepat pengembangan pemanfaatan teknologi untuk perempuan, dan meningkatkan akses agar para perempuan bisa berpartisipasi lebih.

Beruntung sekali saya ikut hadir di acara khusus perempuan ini, takheran kalau pembicara yang ada pun adalah para perempuan hebat. Salah satunya adalah Indari Mastuti atau saya biasa memanggilnya dengan Teh Iin. Wah … luar biasa perempuan ini, saya mengenal beliau sejak Indscript masih embrio. Indscript Creative adalah cikal bakal dari seluruh aktivitas Teh Iin menuju 10 tahun di dunia jasa penulisan yang mampu mengoptimalkan internet dengan sangat baik. Sudah banyak penghargaan yang diraih. Oya, jangan dikira dengan kesibukan Teh Iin kesana kemari, ternyata semua itu dikerjakan hanya dari rumah. Modalnya pun hanya internet. Beliau telah membuktikan bahwa teknologi digital memudahkan perempuan.

Satu hal yang diketahui olehnya tentang digital adalah sosial media. Sosmed membuat semua aktivitasnya menjadi serbacepat. Teh Iin mengatakan bahwa 99% semua kegiatannya melalui sosial media dan sudah 10 tahun fesbukan. Dari sana, ia sudah mendapatkan banyak, jadi rugi kalau kaum perempuan tidak menggunakan sosmed dengan bijak. Baik buruk sosmed tergantung dari penggunanya. Semangat Teh Iin berbagi pengalaman dengan cara memaksimalkan penggunaan internet, jadi membuat saya berpikir … kebaikan apa yang telah dibagi dan apa yang telah didapat dengan berlama-lama di sosmed? Coba evaluasi konten sosmed kita. “Maksimalkan sisi positifnya, enyahkan negatifnya,” tegas Teh Iin.

Pembicara lainnya adalah Andalusia Neneng Permatasari, Dosen Fikom Universitas Islam Bandung, yang mengupas tentang Digital Literasi. Menurutnya, melek digital adalah kemampuan untuk menggunakan, memahami, dan mengerjakan segala sesuatu berbasis digital. Basisnya adalah keahlian diri sendiri, tetapi kalau tidak bisa ya lakukan kolaborasi dengan yang lebih ahli. Kolaborasi ini sangat penting dalam digital literasi. Sebagai contoh, beliau berkolaborasi dengan ilustrator dan animator dalam mengerjakan beberapa proyeknya. Kolaborasi ini penting, semua itu demi mendukung perkembangan generasi milenium. Ya, inilah Perempuan Kreatif di Era Milenia.

Saat acara tengah berlangsung, tiba-tiba datanglah Ibu Yohana Susana Yembise, yaitu Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Mantan dosen Universitas Cendrawasih itu sudah menamatkan gelar S3-nya di luar negeri sehingga menjadi perempuan Papua Barat pertama yang sampai di jajaran tertinggi republik ini. Beliau mengatakan betapa canggihnya teknologi saat ini, sehingga ia begitu khawatir dengan beberapa mahasiswa yang begitu mudahnya copy-paste tugas akhir atau tesisnya tanpa menyebutkan sumbernya. “Bacalah buku, buat teori sendiri, cantumkan sumber,” ujarnya berpesan.

Sebagai menteri, beliau mengungkapkan adanya komitmen untuk menempatkan perempuan di garis aman. Bahkan semua itu sudah tercakup dalam UUD, bahwa anak-anak dan perempuan dilindungi oleh negara. Kekerasan sudah pasti terjadi tetapi sebisa mungkin harus segera dikurangi sampai tidak ada. Kalau di Papua Barat, kebanyakan penyebab utamanya adalah minuman alkohol dan patriaki. Perempuan Indonesia sudah cukup maju dan perempuan di Indonesia sudah menjadi model perempuan dari negara Islam. Yuk ah jadikan internet untuk hal yang positif dan jangan coba-coba menyebarkan berita hoax. Teknologi harus dikontrol.[]


TAGS Perempuan Kreatif di Era Milenia Serempak IWITA KEB Perempuan Kreatif


-

Author

Follow Me