Aku dan Kamu

29 Feb 2016

Siang itu di Juni awal tahun 2001 selepas Dzuhur di Mesjid Salman ITB awal kita ketemu, yang pasti disengaja sang sobat ingin memperkenalkan kita. Hmm….  kesan pertama sih biasa aja, kulit hitam legam, rambut rancung kayak landak, baju lengan panjang biru dan ada tulisan nama ASWI di belakangnya. Kita bertiga jalan beriringan naik angkot menuju Simpang Dago menuju tempat makan. Yap, kita bertiga makan batagor yang terkenal di daerah sini, itu katamu, aku sih iya-iya aja, asyik kalian berdua berbincang. Selepas itu sobatku terkekeh, “Gimana, Mba?” Kataku, “Mr Landak? biasa aja.” Aku juga tidak tahu apakah batagor itu masih ada di sana.

Selepas Magrib di bulan Juli masih tahun yang sama, telepon rumah berdering dan ketika aku mengangkatnya… hey, aku hapal suara ini. “Hmm ya, ada apa Bang Aswi?” Bicaramu seperti diatur sedemikian rupa, dan gak ada yang special menurutku kecuali ajakan untuk bertemu di kemudian hari, tergesa aku mengiyakan karena keluarga calon kakakku akan segera tiba. Yup, malam itu malam dimana kakakku dilamar.

:: Kakak dan Adik dengan latar Jl. Asia Afrika kini ::

Mengapa aku bercerita tentang ini? Karena bercerita tentang Bandung tidak akan lepas dari cerita aku dan kamu. Beberapa hari kemudian, selepas kerja kita bertemu lagi di Mesjid Agung Bandung. Alun-alun Bandung saat itu tidak seperti saat ini. Masih ada air mancur dan banyak sekali pedagang kaki lima dan asongan, plus sampah yang berserakan. Hanya interior masjidnya saja yang tidak berubah. Selepas sholat Ashar kita ngobrol seperlunya dan kemudian masing-masing pulang ke rumah. Baru aku tahu kau masih kuliah semester akhir, hmm… baiklah.

Setelah itu hampir mirip dengan minum obat kau telpon ke rumahku. Ya aku sih asyik-asyik aja, ada saja bahan obrolan yang kita bahas. Sampai-sampai kakak lelakiku bertanya sedikit menginterogasi siapa teman yang seringkali menelpon ke rumah. Begitu tahu mahasiswa ITB, kakakku sedikit memperingati hati-hati kamu diajakin ajaran sesat katanya. Hehe aku sih gak banyak membela diri, hanya bilang gak apa-apa. Aku tahu mana yang baik, ko.

Gramedia atau Gunung Agung Jl. Merdeka adalah tempat dimana kita berdua sering bertemu. BIP saat itu masih tetap ramai dan jadi tempat kongkow anak-anak muda Bandung. Saat itu sebuah toko perlengkapan kamera dan mencuci film masih terlihat mencolok karena besarnya, namun kini makin tergerus oleh toko fastfood. Kau membeli 2 buku yang sama untuk kita baca masing-masing di rumah. Selanjutnya ketika bertemu kita membahas buku yang telah kita baca. Karena aku suka membaca, senang sekali punya koleksi buku baru.Selain itu kau mengajariku tentang chatting di internet. Hahaha malu sekali saat itu aku gak paham sama sekali tentang komputer sampai-sampai aku minta diajarin teman kerja gimana caranya mengoperasikan komputer dan membuka internet.

:: Di kawasan ini dulu pernah ada Bioskop Palaguna ::

Selepas Dzuhur di sekitaran mesjid di daerah RS Pindad Jl. Ters. Gatot Subroto, sambil menunggu sobatku yang sedang bekerja, kau bertanya kepadaku, “Umi sudah siap menikah belum?” Polos kukatakan belum, kemudian aku balik bertanya. “Abang sudah siap? Mau Umi kenalin sama teman yang sudah siap menikah?” Dan kau hanya terdiam sesaat. Selanjutnya pertemuan kita hanya melalui email atau telpon, kadang aku menunggu kabar darimu. Hey….. tahunya kamu sedang Farmasi Pedesaan di daerah Jatiluhur. Komunikasi sempat terhenti dan tak ada kabar darimu sama sekali. Sempat aku mencari kabarmu tapi hilang entah kemana dan aku dirundung sedih. Ohh nyatanya bukan jodohku orang baik dan saleh itu.

Tetiba ada telpon darimu dan kita bertemu di rental komputer sekitaran Dipati Ukur, tak jauh dari Sekeloa. Kini rental tersebut sudah tidak ada, tergantikan oleh beberapa kuliner dan bahkan kini sudah ada POM Bensin plus beberapa travel. Saat itu tidak seramai sekarang. Tak ada penjelasan apapun kenapa beberapa minggu ke belakang kau menghilang. Kau meminta aku memegang dan membaca tulisan yang kau sebut cerpen untuk kau ketik dan akan kau kirimi ke koran. Setelah itu kau bercerita panjang lebar bahwa kau telah berhenti kuliah dan bekerja di Jakarta tanpa menjelaskan alasannya kenapa.

 

Hari-hari dilalui seperti semula, telpon yang rutin berdering sebelum jam 6 pagi, sore hari sepulang aku kerja, dan malam hari selepas Isya. Pulang malam selepas menonton acara Kyai Kanjeng di PUSDAI aku diantar kau pulang. Pusdai saat itu memang langsung terkenal dengan kebesaran dan kemegahannya. Berbagai acara selalu hadir di sana, apalagi menjelang dan saat Ramadhan. “Sampai depan rumah saja, ya…. aku takut orang tuaku banyak bertanya,” kataku dan kau mengiyakan. Beberapa hari kemudian tetiba kau datang ke rumahku. Kaget bukan kepalang, baru kali ini ada laki-laki yang datang ke rumahku dan disambut oleh keluargaku dan kau mengutarakan perasaanmu yang bersimpati padaku. Jujur aku bingung. Dalam hati aku berkata ini nyatain apa bukan ya… jadinya aku hanya tersipu dan terdiam.

 

:: Mesjid Agung dengan Alun-alun Bandung saat ini ::

Beberapa bulan kemudian selepas hari raya Iedul Fitri di tahun 2001, kau datang ke rumah beserta kedua orang tuamu melamarku, dan kemudian ditentukan tanggal dan bulan hari pernikahan kita. Karena dalam adat yang entah adat mana, para orangtua menyarankan tidak dalam 1 tahun menikahkan anak gadisnya. Tanggal 9 September 2002, kita berdua yang mengajukan selang tepat setahun kakakku menikah di tanggal 8 September 2001.

Masa-masa menunggu yang lama dari lamaran ke menikah sekitar 7 bulan, kita lebih intens bertemu dan kedua orang tuaku mengizinkan. Kita pergi ke toko buku, nonton hampir semua film bioskop yang baru tayang, dan hiking. Ngomong-ngomong soal film, kita pernah nonton film Jackie Chan di sebuah bioskop di Ujung Berung. Entahlah sekarang masih ada atau tidak. Lalu pernah nonton di Bioskop Palaguna tepat di seberang Alun-alun, yang kini sudah rata dengan tanah. Daaan….. kita juga pernah nonton di Bioskop Kiara 21 yang sampai saat ini menjadi gedung kosong yang terbengkalai, tepat di seberang Jl. Sekejati.

Kadang kita berdua merasa berdosa karena sering bertemu dan pergi berdua, tak jarang kau mencuri-curi untuk memegang tanganku dan jujur hatiku selalu berdebar-debar dibuatnya. Seketika sadar bahwa ini tidak boleh dan mengulanginya lagi. Hingga akhirnya kita menikah dan aku melahirkan 2 putri yang cantik, sehat, dan cerdas. Semoga kita berdua selalu diberi kekuatan cinta, setia, sabar, dan ikhlas sehingga mampu mendidik anak-anak titipan Allah dengan baik. Aaaminn.[]

“Tulisan ini diikutkan dalam niaharyanto1stgiveaway : The Unforgettable Bandung”


TAGS unforgettable bandung


-

Author

Follow Me