Berlebaran di 4 Kota

16 Aug 2015

Tahun ini kami sekeluarga melewatkan lebaran bersama keluarga besar Abi di Jakarta. Meski berkesan paciweuh, tapi ya dinikmati aja. Abi, Kakak, dan Adik telah lebih dahulu pergi ke Jakarta 4 hari sebelum lebaran dengan menggunakan motor. Paling tidak anak-anak memiliki waktu istirahat yang cukup sebelum melakukan perjalanan panjang. Sementara Ummi menyusul H-1 karena masih bertugas dengan menggunakan bus.

Banyak hal berbeda di tahun ini. Inilah lebaran pertama tanpa adanya Bapak dan Ibu, cukup membuat hati melow. Belum ditambah kondisi Ibu dan Bapak Mertua yang mulai merasakan beberapa organ tubuhnya telah berkurang fungsinya karena usia. Sedih rasanya tidak bisa merawat dan mendampingi beliau karena jarak dan pekerjaan yang tidak dapat ditinggalkan. Perasaan was-was selalu ada karena beliau hanya tinggal berdua sementara saudara yang lain sudah berkeluarga dan berpisah walaupun masih di sekitaran Jakarta dan Bogor.

d46880204ef4dc6b90c85a84090f20bc_ummi-01

Tahun ini pula baru kembali merasakan ikutan mudik ke arah timur melalui jalur selatan. Setelah masing-masing dari kami berkeluarga dan mempunyai anak, yah… memang belum pernah mudik ke Cilacap atau ke Yogya. Ritual yang dahulu sering dilakukan sebelum menikah seolah-olah berakhir ketika kami satu persatu menikah dan mempunyai anak. Pascamenikah, Ummi memiliki tujuan mudik lebaran ke barat, ke Jakarta. Nah, karena itulah pada tahun ini Ummi, Kakak, Adik, dan Abi ingin sekali merasakan mudik bareng mengunjungi makam Bapak dan Ibu. Hitung-hitung sekalian silaturahim ke keluarga yang ada di sana, yaitu Kel. Ibu di Cilacap dan Kel. Bapak di Yogya. Teringat pesan almarhum Bapak bahwa silaturahim itu harus dijaga. Kita gak tau kapan amalan baik kita akan berbalik kepada kita. Apakah memang akan sampe ke kita atau ke orang terdekat kita. Itulah pentingnya silaturahim dan berbuat baik.

Untungnya kami menyewa mobil yang amat besar, yaitu berkapasitas 17 orang. Mobil berjenis elf besar ini cukup nyaman meski hanya mobil pinjaman. Namun mobil yang datang tidak sesuai dengan pesanan kami, yaitu Full AC, TV, dan DVD. Memang awalnya bisa menggunakan AC dan DVD, tapi pas pulang DVD-nya rusak dan AC pun diatur-atur agar aki mobilnya awet. Ya, mobil yang kami sewa itu beberapa kali mogok dan harus didorong. Untunglah ada tiga lelaki yang cukup tangguh. Sudahlah, kami menikmati saja perjalanan yang panjang dan melelahkan ini dengan hati riang.

fe0902745b99ac4bd089731a96795287_ummi-02

Sebenarnya semua planning berjalan dengan mulus dalam artian semua terpenuhi. Hanya saja prediksi waktu yang banyak meleset membuat badan ringsek juga dan baru terasa sampe berminggu-minggu setelah lebaran dan mudik lewat. Bayangkan, waktu tempuh Jakarta-Bandung di malam hari lebaran ke-1 bisa sampai 6-7 jam, padahal biasanya hanya 3-4 jam. Lalu Bandung-Tasik mencapai 11 jam yang biasanya hanya 2-3 jam biarpun selanjutnya lancar jaya hingga Yogyakarta. Begitu pula saat sampai di Kota Gudeg itu, kami terjebak macet di berbagai tempat. Aduh… beneran capek di jalan. Namun semua capek dan lelah itu seakan lenyap saat bisa bersilaturahim dengan saudara, termasuk menyenangkan hati anak-anak dengan bermain di Pantai Parangtritis dan menyusuri Jl. Malioboro.

Hingga perjalanan pulang pun terjebak macet, padahal kami berangkat dari Yogya tengah malam. Sebelum sampai Banyumas, kemacetan sudah terjadi sejauh 25 km, itu kata penduduk setempat. Hingga akhirnya Abi berinisiatif mengambil jalan pintas melalui jalur pantai selatan sesuai gambar di Google Map. Awalnya mulus dengan jalur lurus, tapi kemudian bertemu jalur ekstrim di daerah Ayah. Jalan yang naik dan turun begitu amat curam, belum kelokan yang begitu banyak. Namun semua itu terbayar oleh pemandangan bukit dan pantai yang begitu indah. Baru kali Ummi melewati jalan ini. Duh Allah, ciptaanMu benar-benar deh … Subhanalloh Walhamdulillah. Ucap syukur dan mohon ampun Ummi padaMu.

c11b11fa6c9e17f8212be6c2faa66952_ummi-03

Alhamdulillah, setelahnya perjalanan menuju Cilacap begitu mudah dan cepat. Makam Bapak di Bantul berhasil diziarahi, begitupula dengan makam Ibu di Cilacap. Setelah beberes mandi beberapa jam, perjalanan kami lanjutkan untuk kembali pulang ke Bandung. Kemacetan kembali menghadang saat memasuki Ciawi. Dari pantauan Google Map di gadget Abi, kemacetan sudah sampai ke Nagrek. Awalnya coba melewati jalur normal, tapi sudah 2 jam belum beranjak dari Pasar Ciawi. Untunglah sopir tahu jalur alternatif yang melewati Panjalu. Malam begitu gelap. Ummi hanya tahu bahwa kami melewati Majalengka, Sumedang, dan akhirnya masuk ke Bandung dengan kondisi jalan yang lengang. Sampai rumah, kami semua terkapar hingga pagi tiba.

Bagaimana dengan lebaran tahun depan ya? Kita lihat saja nanti :D

=====

Artikel ini diikutsertakan dalam #GiveAwayLebaran
yang disponsori oleh Saqina.com, Mukena Katun Jepang Nanida,
Benoa Kreati, Sanderm, Dhofaro, dan Minikinizz


TAGS


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post