Yes! I’m A Radiographer!

31 Mar 2015

Menurut Ridwan Kamil, Walikota Bandung yang biasa disapa Kang Emil, “Pekerjaan yang menyenangkan itu adalah hobi yang dibayar.” Mungkin kosa katanya gak pas, tapi intinya ya seperti itu. Nah, kebetulan pekerjaan yang dilakoni Ummi saat ini memang sesuai dengan passion, yaitu ibu rumah tangga yang bekerja di rumah sakit.

Pekerjaan sebagai ibu rumah tangga itu tak ada habisnya. Mulai saat mata terbuka hingga mata terpejam kembali. Mulai dari membangunkan Kakak dan Adik—setelah sebelumnya Ummi mandi dan menyiapkan air panas—hingga menyetrika baju sekolahnya. Mulai dari menyiapkan sarapan hingga menyuapinya. Mulai dari mengantar ke sekolah hingga sampai menjemputnya dari sekolah. Belum lagi memasak, mencuci piring, mencuci baju, menjemur, menyetrika, menyapu, mengepel, menemani belajar, hingga meng-mpok-mpok ngelonin anak-anak tidur. Ah … kalo dirunut satu persatu gak ada habisnya pekerjaan di rumah.

Untungnya, itu semua tidak Ummi lakuin sendiri. Masih ada Abi sebagai suami siaga dan mau berbagi peran. Itu sangat-sangat-sangat membantu. Ada juga Nisa, keponakan Abi yang tinggal bersama kami. Kakak dan Adik pun mulai dibiasakan menyiapkan keperluannya sendiri untuk sekolah, ambil piring dan gelas, mengambil makan sendiri, hingga mencuci piring sesudahnya. Bahkan Adik sudah mulai mengikuti jejak kakaknya belajar masak telor sendiri. Padahal dia masih duduk di kelas 2 SD. Keren, kan, anak-anaknya Ummi ini. Gak kebayang kalau saban hari melakukan itu semua. Bakalan jenuh, deh. Alhamdullillah ada penyeimbang dalam keseharian, yaitu bekerja sebagai karyawan di Unit Diagnostik RS Muhammadiyah Bandung (RSMB).

KAPAN MULAI BEKERJA DI LUAR RUMAH?

6e9eb1280d5afb560316ba1a08c0ef1c_09-profesiUmmi pertama kali bekerja tahun 1999, dua bulan setelah lulus dari Sekolah Perawat Kesehatan (SPK). Ummi diterima bekerja di Poli Umum Kimia Farma Ujung Berung. Ummi juga bekerja membantu dokter jaga di beberapa tempat. Sampai akhirnya dikenalkan pertama kali tentang dunia Radiologi oleh sahabat Bapak, yaitu Bapak Bunyamin yang biasa disebut Pak Abun. Keduanya sudah almarhum. Pada saat jam bekerja luang, Ummi belajar foto rontgen karena sudah punya basic anatomi fisiologi di SPK. Jadinya tidak begitu sulit saat belajar dasar-dasar radiologi. Kemudian terdengarlah kabar kalau asisten dr. H. Sachron Fadjar Sp.Rad sering sakit-sakitan. Pada saat itulah Ummi mulai menggantikan posisi beliau di Klinik dr. Fadjar, sebuah klinik umum yang menyediakan foto rontgen.

Ummi mengambil keputusan untuk keluar dari tempat lain dan fokus di Klinik dr. Fadjar. Setiap pagi Ummi fokus belajar foto rontgen di RS Muhammadiyah dan sore harinya membantu dr. Fadjar di klinik. Jika mengingat masa itu, Ummi merasa bersyukur diberi kesempatan untuk belajar foto rontgen. Klinik tersebut telah ditutup sejak 8 (delapan) tahun yang lalu. Sambil bekerja di klinik, Ummi mencoba melamar bekerja sebagai perawat Radiologi RS Muhammadiyah. Alhamdulillah diterima pada bulan Mei 2001. Ummi dites on the job training selama tiga bulan, lalu diangkat sebagai pegawai kontrak selama tiga tahun, dan bersyukur diangkat sebagai pegawai tetap setelahnya.

Kerja di RS itu shift-shiftan. Shift pagi dari jam 07.30 sampai 14.30 dan kalau shift middle dari jam 11.00 sampai 18.00. Di sela-sela pekerjaan, Ummi masih bisa izin sebentar untuk menjemput Kakak-Adik di sekolah, lalu membawanya ke RS apabila Abi tidak bisa menjemput. Dulu bahkan pernah kebagian shift malam sehingga tidak bisa menemani anak-anak tidur di rumah.

TIDAK TAKUT BERMAIN RADIASI?

Kenapa harus takut? Ibaratnya seperti kita main api. Kalau tidak hati-hati ya bisa terbakar juga. Nah, begitu juga kalau bekerja dengan sinar radiasi. Bijak menggunakan radiasi sesuai kebutuhan dalam pemberiannya itu sudah merupakan keharusan, lagipula Ummi kan bekerja tidak di tempat yang bermandi radiasi hehehe. Begitu pula asupan makan tinggi protein harus dilakonin. Check Up rutin tiap tahunnya dan kita juga tiap bekerja menggunakan alat pendeteksi radiasi untuk mendeteksi berapa banyak dosis radiasi yang telah diterima oleh tubuh. Per tiga bulan alat itu diperiksa di BATAN (Badan Tenaga Nuklir) dan apabila dosis radiasi melebihi batas maksimal maka kita harus mendapatkan cuti selama 3 bulan dengan tanggungan. Itu artinya kita tidak boleh bekerja di bidang radiasi selama 3 bulan tapi tetap mendapatkan gaji tiap bulannya. Alhamdulillah hal itu belum pernah kejadian selama Ummi bekerja. Sampai saat ini semuanya aman dan bahkan memiliki dua anak yang sehat-sehat.

BAGAIMANA TANGGAPAN KELUARGA?

a014d9b82dbd3a9f0e293328ecdd9ce6_10-profesiKedua orangtua Ummi yang sudah almarhum tidak pernah melarang apa yang ingin Ummi lakukan selama itu baik dan tidak melanggar aturan agama dan masyarakat. Mereka fine-fine saja. Abi dan kedua orangtuanya juga tidak pernah mempermasalahkan pekerjaan Ummi dari awal kita berkenalan hingga memutuskan untuk menikah. Bahaya radiasi siapa yang tidak tahu. Dari mulai mandul dan impoten, hingga bahaya kanker dan mungkin juga berakibat tidak baik kepada anak yang dilahirkannya.

Menikah pada bulan September 2002, Ummi pernah mengalami keguguran pada kehamilan pertama di bulan Desember saat usia kandungan 6 minggu. Entah apa penyebabnya, yang pasti saat itu Ummi tidak tahu sedang hamil karena jadwal menstruasi Ummi memang tidak jelas. Bisa jadi aktivitas yang berlebihan telah menjadi pemicunya. Alhamdulillah setelah 5 (lima) bulan setelah itu, Ummi dapat hamil kembali hingga akhirnya Kakak lahir pada bulan Januari 2004. Adik pun menyusul lahir pada bulan September 2006. Tidak ada keluhan yang berarti selama kehamilan keduanya. Saat hamil Ummi benar-benar menjaga diri agar tidak bekerja di ruangan radiasi. Kakak-Adik lahir dengan proses normal dan tidak ada kelainan secara fisik. Mereka berdua tergolong cerdas di sekolah dan tentu bisa mengikuti pelajaran.

Allah memudahkan setiap langkah ummat-Nya dalam melakukan kebaikan. Ketika aturan kesehatan yang mengharuskan seorang perawat boleh memegang pasien minimal berpendidikan setara D3, Ummi yang hanya lulusan SPK (setingkat SMU) didukung oleh kepala bagian di tempat bekerja, Abi, dan orangtua untuk melanjutkan pendidikan D3 Teknik Radiodiagnostik dan Radiotheraphy, bukan melanjutkan ke AKPER atau Akademi Perawat. Ummi kuliah pada tahun 2010-2113. Pengaturan jadwal antara kerja dan kuliah benar-benar hectic. Sepulang kerja Ummi harus berangkat kuliah. Jadi, pergi pagi pulang malam setiap hari bukanlah hal yang mudah, apalagi melihat Kakak dan Adik yang butuh perhatian lebih. Badan yang lelah dan pikiran yang terbagi-bagi membuat emosi mudah sekali naik. Akan tetapi Abi tercinta dan Kakak-Adik tersayang adalah anugerah terindah yang Allah beri hingga semua urusan kuliah, pekerjaan di rumah, dan pekerjaan di RS dapat dilakukan dan dilalui dengan baik. Teman-teman di tempat kerja juga tidak kalah pentingnya, apalagi si Bos yang selalu siap sedia kalau diperlukan bantuan :D.

NGAPAIN AJA PEKERJAANNYA?

Pekerjaan rutinnya sih sebagai pelaksana lapangan, yaitu melakukan foto rontgen pasien. Bisa foto paru, kepala, tangan, kaki, dan bagian tubuh lainnya. Kadang juga ada pemeriksaan foto dengan zat kontras, kemudian menyiapkan dan menemani dokter spesialis Radiologi melakukan USG, melaksanakan CT Scan kepala, bagian perut, atau paru- paru dengan atau tidak dengan zat kontras. Sebagai koordinator USG, Ummi sudah pasti harus menyiapkan data hingga membuat laporan bulanan. Yang pasti dari masuk ruangan sampai keluar lagi, pekerjaan Ummi seperti tidak ada habisnya.

Tidak ada pekerjaan yang mudah untuk dilakukan, tapi tidak mustahil untuk dikerjakan. Ummi hanya berusaha melakukan pelayanan terbaik sebagai pelaksana untuk diri sendiri, instansi, dan akhirat. Itu adalah bentuk tanggung jawab yang Ummi bisa lakukan. Ummi hanya berharap semua ini adalah pekerjaan yang berkah. Baik buat Ummi pribadi, buat keluarga, maupun buat pasien yang datang silih berganti … amiiin.[]

Tulisan ini diikutkan dalam IHB Blog Post Challenge


TAGS inspirasi profesi perawat foto rontgen radiologi RS Muhammadiyah


-

Author

Follow Me

Search

Recent Post